GKI Bintaro Jakarta

Lembaran Pembinaan

Bahan PA Bulan September 2018

 

PEMUDA DAN RELASI ANTAR UMAT BERAGAMA

 

 Bacaan Alkitab:Kejadian 14:17-24 

Tujuan: Umat memahami bahwa masa depan bangsa terletak salah satunya pada masa depan relasi antar umat beragama dan bagaimana pemuda berperan dalam relasi antar agama. 

PENGANTAR

 Seorang pendeta senior pernah berkata kepada saya “Sadarilah bahwa kamu adalah seorang Kristen. Namun juga seorang Indonesia. Seorang Kristen yang Indonesia. Itulah kamu!”. Kalimat itu bukan hanya menjadi identitas saya saja, tetapi juga identitas Anda. Identitas ini melekat kuat pada kita yang hidup dan menghidupi ke-Kristen-an dan ke-Indonesia-an. Keduanya menjadi satu. Karena satu, maka sebaiknya jangan dipisah-pisah. Saya rasa itulah alasan yang paling kuat mengapa Gereja Kristen Indonesia (GKI) memilih nama yang melekat kuat sebagai identitasnya. Gereja Kristen Indonesia adalah payung besar yang sangat tepat untuk berbicara soal peranan seorang Kristen di tengah konteks Indonesia. Bahkan dalam Penjelasan Konfensi GKI pada alinea pertama, butir 2 dituliskan bahwa “GKI menyadari bahwa keberadaannya di dunia dalam konteks Indonesia tidak lepas dari Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam persekutuan-Nya yang akrab dan dalam anugerah penciptaan-Nya, pemeliharaan-Nya, penyelamatan-Nya, dan pembaruan-Nya”. Artinya, Indonesia adalah tempat di mana kita menemukan cinta kasih Allah yang menyelamatkan.

Semangat panggilan ini akan menjadi sangat baik apabila ditularkan kepada pemuda dan pemudi dalam mencintai ke-Kristen-annya dan ke-Indonesia-annya. Sosok seperti, Eka Darmaputra, S.A.E. Nababan, Radius Prawiro, J. Leimena, Yap Thiam Hien, T.B. Simatupang adalah tokoh-tokoh besar Indonesia yang mencintai identitasnya sebagai seorang Kristen, sekaligus Indonesia. Dapat dipastikan mereka semua menghidupi identitasnya sejak muda, dimana saat itu tak banyak pemuda yang mau demikian. Hingga akhirnya, buah karya mereka dapat dirasakan oleh banyak orang. Tanpa mendestorsi pemahaman iman kita, kita bisa memasuki ruang dialog-dialong, relasi-relasi dengan antar umat beragama, di tengah-tengah konteks Indonesia yang sangat plural. Sebagai orang Kristen, ada baiknya kita belajar dari kisah Abram. 

PENJELASAN 

Kejadian 14:17-24 adalah cerita tentang perjumpaan Abram dan Melkisedek. Cerita ini jarang dibicarakan. Apabila dibaca pun tidak ada yang menarik, bahkan terkesan biasa-biasa saja. Namun apabila dicermati akan menjadi diskusi yang menarik dan menghentakkan iman percaya. 

Sebelum bertemu dengan Melkisedek, setidaknya ada peristiwa yang perlu kita pahami bersama. Bahwa Abram adalah sosok yang sangat gagah perkasa dan bersemangat. Dia dan Lot baru membebaskan saudaranya yang menjadi tawanan perang (Kej 14:14-16). Memang pada waktu itu telah terjadi perang yang hebat antara bangsa-bangsa. Dan raja yang paling ditakuti oleh banyak bangsa kala itu Kedolaomer, telah ditumbangkan oleh Abram. Maka, dapat dipastikan Abram menjadi pahlawan bagi banyak bangsa. 

Kepahlawanan Abram dalam membebaskan tawanan dan mengalahkan Kedolaomer membuat banyak orang memujinya, termasuk juga Melkisedek, raja Salem, imam Allah Yang Mahatinggi. Oleh karena itu, Melkisedek pun menumpangkan berkat kepada Abram, katanya “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya (ayat 19-20). 

Tampak tidak ada masalah dalam penumpangan berkat ini. Namun apabila mencermati, di situ tercantum “Allah Yang Mahatinggi” sebanyak tiga kali. Siapakah yang dimaksud “Allah Yang Mahatinggi” ini? Apakah Dia Allah yang sama disembah oleh Abram dan Sara, istrinya? Tidak! Lho kok bisa?

Dalam bahasa aslinya, ditulis El Elyon. Siapakah sebenarnya El Elyon ini? Ia adalah Ilah/dewa orang Kanaan. Dalam Kamus Eerdmans dituliskan, “the adjective elyon was commonly applied to kings and gods, and El Elyon is an appropriate title for high god of the Canaanite pantheon as well.” Dalam sumber dewa-dewa Kanaaan disebut pula “El, also called ‘Il or Elyon (“Most High”), generally considered leader of the pantheon.” 

Dalam perkembangan berikutnya dari kata “El” inilah muncul kata “Elohim” atau “Eloah” yang diadopsi oleh bangsa Israel. Namun apabila meneliti dari bahasa semit kuno, kata ‘El” memang lahir dari rumusan sebutan dewa tertinggi Kanaan. Apakah dengan demikian Abram diberkati dalam nama dewa lain? Implikasi sementara demikian. Namun apakah reaksi Abram? Ia bersukacita dan mensyukuri berkat dari imam Kanaan. Bahkan sebagai tanda ungkapan terima kasih pun Abram memberikan sepersepuluh kepada Melkisedek. 

Siapakah sebenarnya Melkisedek ini? Melkisedek dalam bahasa Ibrani (Ibr. Malki-Tsedeq, yang artinya raja kebenaran). Dia adalah raja di Salem, sebuah kerajaan lokal di wilayah yang kemudian hari menjadi kota Yerusalem. Tampaknya di sini kita dapat melihat bahwa penulis kitab mencoba memberikan legitimasi asal-usul nama ibukota Yerusalem. Maka benarlah kalau diteliti dari sumber para ahli, cerita ini nampaknya dilihat sebagai sisipan, karena dipandang sebagai cerita yang tidak biasa atau di luar kebiasaan. 

Konteks waktunya terjadi cerita ini adalah zaman Abraham, yaitu sektiar tahun 1800 sM. Penulisan dan penyisipan diperkirakan terjadi sekitar tahun 950 sM. Penyisipan ini agaknya dimaksudkan sebagai legitimasi jabatan imam paska pembuangan, mungkin juga legitimasi peraturan persembahan persepuluhan. 

Apabila kita mencermati ayat 22, kita akan melihat sesuatu yang lebih mengejutkan lagi dan tidak biasa. Abram berkata “Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi......” Dalam bahasa asli “YHWH, El Elyon...” Yahweh (terjemahan Indonesia: TUHAN) adalah nama Allah yang diimani oleh Abraham, sedangkan El Elyon adalah illah yang diimani oleh Melkisedek. Jadi, di sini kuasa ilahi agama orang Israel disandingkan dengan kuasa ilahi agama Kanaan. Apa maksudnya? 

Dalam buku Dua Konteks, Emmanuel Gerrit Singgih seorang Guru Besar Fak. Teologi UKDW, malah mengatakan bahwa tidak terdapat dua kuasa ilahi, tetapi hanya satu, yaitu nama El Elyon. Kalau memang sebelumnya tidak ada nama Yahweh (yang baru ditambahkan kemudian), itu berarti Abraham mengangkat sumpah demi El Elyon yang disembah oleh Melkisedek. Berarti Abraham menerima saja El Elyon sebagai yang sama dengan yang ilahi, yang telah memanggil dia untuk keluar dari Ur-Kasdim.....” Maka dapat dipahami, apabila sebutan Yahweh berdampingan dengan El Elyon maka ini adalah usaha teologisasi yang bersifat kontekstual dari Abraham yang di satu pihak mengidentifikasi Yahweh dengan El Elyon, tetapi di lain pihak sekaligus membedakannya pula.

Apapun dugaan kita, ini bukanlah hal yang biasa, jika Abram mengakui dan menghargai dewa lain. Sikap jiwa besar penulis ataupun redaktur perikop ini menunjukkan sikap yang justru merangkul dan memberi tempat kepada agama lain. Gerrit Singgih pun berkata, “.....mengherankan juga bahwa ada ayat-ayat pluralis di antara ayat-ayat antipluralis. Mereka yang bertanggung jawab pada kanonisasi Perjanjian Lama tampaknya tidak risih untuk mengakui bahwa agama mereka mengalami kontekstualisasi. Tanpa kontekstualisasi, agama mereka tidak akan mengakar”.

Maka kita dapat menarik kesimpulan sementara bahwa yaitu: pertama, Alkitab kita ternyata menuliskan sesuatu yang tidak biasa. Penulis membangun teologi ini dengan cukup baik dengan melihat sisi lain, yaitu agama lain. Kedua, sangat dimungkinkan bahwa perjumpaan Abrahm dan Melkisedek adalah model pertama tatkala bicara soal relasi antar umat beragama. Tentunya ini pintu masuk untuk dialog yang lebih konkrit dalam konteks masa kita yaitu Indonesia. Ketiga, sebagai sosok seorang yang muda, gagah dan perkasa, Abram menghargai keberadaan Melkisedek yang beragama lain dan justru membangun sebuah persekutuan yang baik.

 

Pertanyaan Panduan Diskusi 

1. Mungkinkah kita boleh menerima berkat dari agama lain? 

2. Bagaimana sikap kita jikalau ada orang yang berdoa kepada kita, dengan caranya masing-masing sesuai dengan agamanya? 

3. Apakah ada kebenaran lain selain agama Kristen? Bagaimana selama ini memahami dogma gereja dan hubungan antar umat beragama? 

4. Bagaimana kehidupan pemuda bicara soal kehidupan antar umat beragama? Bukankah harusnya dialog itu dimulai dari seorang muda yang mau belajar?

 


GKI BINTARO JAKARTA

  • Jl. Pongtiku No.2 Bintaro Permai 2
    Jakarta Selatan 12330
  • Telp. (021) 7388 5403
  • Fax. -

JADWAL KEBAKTIAN

  • Kebaktian Umum : 08.00 WIB | 17.00 WIB
  • Kebaktian Sekolah Minggu : 08.00 WIB
  • Kebaktian Remaja : 08.00 WIB

AGENDA KEGIATAN

KATERGORI BERITA

KATERGORI ARTIKEL

BANNER

POLLING

    Apakah keberadaan Website GKI Bintaro Jakarta cukup memberikan informasi ?
    Baik
    Cukup
    Kurang
    Sangat Kurang

STATISTIK PENGUNJUNG

    033231

    Pengunjung hari ini : 25
    Total pengunjung : 33231
    Hits hari ini : 71
    Total Hits : 89582
    Pengunjung Online : 2
Copyright © 2013. GKI Bintaro Jakarta. Designed by tanihatoe