GKI Bintaro Jakarta

Lembaran Pembinaan

Bahan PA Bulan Agustus

 

ORANG TUA SEBAGAI TELADAN

 

Bacaan Alkitab   : Yosua 4:1-9

Tujuan               : Umat memahami tanggung jawab orang tua di dalam mendidik anak, melalui

pemberian teladan yang sesuai dengan nasihat Firman Tuhan.

 

Pengantar

Pendidikan iman anak merupakan sebuah proses panjang yang menempatkan orang tua sebagai model yang utama. Namun seringkali orang tua tidak menyadari peranan mereka. Pendidikan Iman anak diserahkan kepada pihak-pihak lain. Karena kesibukan, orang tua seringkali menyerahkan pendidikan iman anak kepada pembantu rumahtangga atau pengasuh anak. Gejala yang ditengarai akhir-akhir ini sedang mewabah adalah membiarkan anak-anak akhirnya dididik oleh gadget.

 

Situasi ini diperparah dengan makin menguatnya pendekatan individualisme yang menekankan bahwa individulah yang paling berhak menentukan hal-hal yang dianggap baik bagi dirinya, bukan orang lain. Orang tua dipengaruhi dengan kuat oleh individualisme memandang bahwa urusan iman anak adalah tanggung jawab si anak kelak pada waktunya untuk dirinya sendiri. Maka mereka tidak ingin “memutuskan” dan “menentukan” soal iman bagi anaknya. Akibatnya, anak sering tidak diperkenalkan dengan sepenuh hati kepada iman Kristen. Bagaimanakah sikap orang tua seharusnya menurut Alkitab? Bacaan pemahanan Alkitab kita saat ini mencoba membantu menjelajahi persoalan ini.

 

PENJELASAN

Kitab Yosua yang mulai dibukukan dari tradisi-tradisi lisan pada sekitar abad ke 10 sebelum Masehi yaitu pada zaman kejayaan monarkhi Israel, tidaklah dimaksudkan untuk mencatat sebuah sejarah. Kitab ini, seperti kitab-kitab lain dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berisi kesaksian profetis (kenabian) maupun kesaksian iman umat atau komunitas di balik para penulisnya, yang mencoba menimba makna kesetiaan Allah dalam kehidupan umat Israel. Sebab itu kronologi peristiwa tidak menjadi penting, sebab yang diutamakan adalah pesan yang ingin disampaikan kepada umat.

 

Di zaman raja-raja, sejarah Israel mengalami pasang surut dalam kehidupan iman kepada Yahweh, Allah yang mereka imani. Sebab itu “sejarah” ini dituliskan untuk menjadi kesaksian kepada Israel, supaya mereka menyatakan kesetiaan mereka kepada Yahweh, satu-satunya Allah yang telah membebaskan mereka dan memerdekakan mereka dari perbudakkan di Mesir; Allah yang telah memberikan tanah Kanaan menjadi tempat mereka hidup, sebagai bangsa yang merdeka dan jaya. Itu sebabnya kitab Yosua, khususnya pasal 4 ini harus dibaca dalam konteks kesaksian yang merupakan panggilan untuk setia kepada Allah Israel.

 

Tema yang hendak ditonjolkan dalam Yosua 4 ini adalah Yahweh yang setia, yang menuntut kesetiaan dari umat Israel. Peristiwa yang menceritakan pembanguan monumen di Gilgal menjadi sangat strategis karena pembangunan ini menjadi tanda dari kehadiran dan campur tangan Yahweh yang sangat nyata dalam kehidupan umat Israel. Dan dalam konteks keyakinan iman inilah, pendidikan iman untuk generasi mendatang di masa depan ditekankan. Kita akan memfokuskan pembahasan pada ayat 1-9, meskipun keseluruhan pasal 4:1-24 merupakan konteks kisah yang perlu disimak.

 

Ayat 1. Perikop ini diletakkan dala konteks kisah penyeberangan umat di Yordan. Penceritaan kisah ini dalam Yosua pasal 3 dan 4 merupakan kisah yang sejajar dengan penyeberangan umat di laut Teberau (baca Keluaran 14:15-31). Kesejajaran yang muncul adalah dari aspek-aspek sebagai berikut:

a) Kesejajaran waktu, yakni pada bulan Nisan (sekitar Maret/April) yakni di sekitar perayaan Paskah (Yosua 4:19, bandingkan dengan Keluaran 13:4. Bulan Nisan dan Abib adalah dua nama berbeda. Nisan = penanggalan Babil kuno, Abib = penanggalan Ibrani kuno, mungkin dari penanggalan Mesir). 

b) Kesejajaran tradisi aliran air yang terbelah (Yosua 4:18, bandingkan dengan Keluaran 14:21).

 

c)  Kesejajaran sikap Israel yang takut pada Tuhan dan pada Yosua, seperti kepada Musa (Yosua 4:14, bandingkan Keluaran 14:31).

 

Kesejajaran tradisi ini tidaklah kebetulan, melainkan sebagai legitimasi terhadap pesan yang ingin disampaikan para penulis atau redaktur Kitab Yosua, bahwa Yahweh adalah Allah yang kekal dan yang setia memelihara umat-Nya.

 

Ayat 2-9. Ayat-ayat ini menceritakan perintah Tuhan, agar umat Israel membangun tugu peringatan. Bentuk final narasinya memang agak membingungkan, namun mungkin menggambarkan situasi yang terjadi terhadap tugu batu itu. Kelihatannya ada dua tradisi terpisah.  Tradisi pertama yang lebih awal (ayat 4-8) menggambarkan penempatan kedua belas batu yang diambil dari dasar sungai ke tepian barat  sungai Yordan. Tugu yang terdiri dari dua belas batu besar ini merupakan tanda peringatan, setelah penyeberangan yang disertai mujizat Tuhan tersebut. Tradisi kedua yang terjalin di dalam tradisi pertama mendeskripsikan penempatan batu-batu di tengah-tengah sungai Yordan (ayat 9), yang barangkali merupakan tradisi dari waktu yang lebih kemudian, ketika batu-batu dan tempat ibadah yang menjadi fokus dalam tradisi pertama telah menjadi reruntuhan dan sudah berubah menjadi agak di tengah aliran sungai.

 

Pembangunan tugu peringatan ini bukanlah tugu yang secara historis dibangun untuk memperingati kemenangan Israel terhadap musuh-musuhnya, oleh karena pembebasan yang Israel alami adalah pembebasan yang dari Yahweh, Allah yang membebaskan mereka dari Mesir, sekaligus menyertai mereka dalam perjalanan selama kurang lebih empat puluh tahun. Tugu tersebut lebih memiliki nilai kultis (ibadah). Tugu itu untuk memperingati karya Yahweh yang hidup. Tidak mengherankan bahwa dalam beberapa generasi, Gilgal, yang menjadi tempat di mana tugu itu dibangun, menjadi salah satu tempat suci orang Israel (ayat 19 bandingkan dengan Amos 4:4, 5:5).

 

Kalau kita perhatikan urutan peristiwa dalam perikop ini, sifat kultis tugu tadi semakin nyata, karena ada nuansa tata ibadah dalam kisah tersebut. Peristiwa ini tidak hanya melibatkan para pemimpin politik dan milliter (Yosua dan wakil-wakil para suku Israel), melainkan juga melibatkan imam-imam dan tabut Tuhan (ayat 2, 5, 8, 9, 10, 11, 16, 17 dan 18). Imam-imam adalah pelaksana ibadah kepada Yahweh dan tabut Tuhan adalah simbol dari kehadiran Tuhan sendiri. Peristiwa ini memang dicatat untuk menunjukkan peranan Yahweh dan bukan peranan Yosua dalam peristiwa historis ini. Tradisi tabut Tuhan mengandung keyakinan bahwa Yahweh bukanlah Allah yang jauh di tempat yang tak terhampiri, melainkan Allah yang selalu hadir dan campur tangan dalam kehidupan umat. Maka tidak ada alasan bagi umat untuk berpaling dari Yahweh yang hidup dan selalu hadir kepada dewa-dewa yang mati. Tugu peringatan di Gilgal adalah suatu peringatan kepada Israel agar memandang dan berpegang hanya kepada pimpinan dan tuntunan Yahweh, Allah yang hidup. Yahwehlah yang membuat mereka jaya. Jadi tugu ini bukan peringatan kemenangan Israel, melainkan peringatan kesetiaan Tuhan.

 

Penggambaran makna kultis sedemikian ini rupanya disengaja oleh penulis Yosua sebagai kritik terhadap munculnya kecenderungan para nabi pada zaman monarki (raja-raja) yang mengkltuskan para raja tersebut. Bangsa-bangsa di sekitar Israel memang sering menganggap bahwa raja mereka adalah personifikasi dari dewa-dewa. Karena itu tema utama para nabi dan penulis Kitab Yosua adalah kembali dan setia pada Yahweh. Kesetiaan pada Yahweh ini ditandai dengan pembangunan batu-batu peringatan yang merupakan tanda pertolongan Yahweh. Yahweh adalah pahlawan dan pembebas satu-satunya. Yang membebaskan bangsa Israel bukalah raja Israel.

 

Selain makna historis dan kultis, tugu ini memiliki makna futuris-edukatif. Dan ini berkaitan secara langsung denga tema kita. Ayat 6-7 menceritakan bahwa tugu tersebut menjadi tanda, supaya jika”anak-anakmu bertanya di kemudaian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? Maka haruslah kami katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan Tabut Perjanjian Tuhan; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.” Orangtua akan mendapatkan pertanyaan mengenai pengalaman pribadi mereka. Apa artinya batu-batu ini bagi kamu. Dan mereka harus menjawab pertanyaan anak-anak mereka bukan secara filosofis teologis saja secara umum seperti yang muncul kembali dalam pertanyaan yang serupa, tetapi berbeda dalam ayat 21: “Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu – batu ini?” melainkan secara personal praktis berdasarkan pengalaman mereka. Para orang tua Israel diharapkan akan memberikan keteladanan mereka dalam pengalaman bersama Tuhan untuk  menjawab dan menuntun anak-anak mereka ke dalam pengalaman iman mereka bersama Yahweh.

 

Hal yang perlu dicatat  mengenai peranan orangtua dalam pendidikan iman anak adalah bahwa peranan tersebut tidak menekanan pendekatan satu arah yang dogmatis, di mana orangtua memberikan indoktrinasi pokok-pokok iman kepada anaknya. Ungkapan “Jika anak-anak mu bertanya di kemudian hari” mengasumsikan sebuah proses timbal bailk, di mana anak-anak diransang untuk bertanya dan mengalami pencerahan melalui upaya menemukan jawab atas pertanyaan tersebut. Kalau dibandingakn dengan “pendidikan yang memerdekakan dari Paulo Freire di abad 20, ternyata pendekatan ini tidak terlalu asing dalan tradisi Israel.

 

Perikop ini menggambarkan bahwa para orangtua Israel diharapkan mempunyai pemahaman maupun pengalaman iman pribadi yang tepat mengenai dan bersama Yahweh, sehingga mereka akan dapat memberikan rangsangan proses belajar, pemahaman dan membantu pengalaman iman anak-anak mereka kelak kepada Yahweh. Tugas menjadi teladan bagi anak-anak merupakan kewajiban sekaligus implikasi langsung dari pengalaman bersama Allah yang setia yang senantiasa memelihara umat Israel.

 

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI

1. Menurut Anda, secara teologis, apakah makna kisah iman umat Israel menyebrangi sungai Yordan dalam Yosua 4 yang penceritaannya mirip dengan kisah iman dalam Keluaran 14?

 

2. Selain makna teologis historis, batu-batu peringatan tersebut mempunyai makna kultis, yaitu didirikan dalam rangka untuk ibadah kepada Yahweh. Menurut Anda apakah perbedaan kisah ini dengan konsep ibadah dalam Roma 12:1?

 

3. Makna futuris edukatif dari tugu peringatan ini merupakan implikasi langsung dari pengakuan umat Israel terhadap Allah yang setia. Bagaimanakah pendapat Anda mengenai hal tersbut? Bandingkan dengan kecenderungan untuk menekankan bahwa masalah agama adalah sesuatu yang harus bersifat individual eksistensial. Haruskah keduanya bertentangan? Sejauh manakah tanggung jawab orangtua?

 

4. Bagaimanakah Anda melaksanakan peranan Anda sebagai teladan dalam pendidikan iman anak-anak? Mohon Anda membagikan pengalaman Anda, sehingga semua anggota kelompok pemahaman Alkitab ini dapat saling belajar.


GKI BINTARO JAKARTA

  • Jl. Pongtiku No.2 Bintaro Permai 2
    Jakarta Selatan 12330
  • Telp. (021) 7388 5403
  • Fax. -

JADWAL KEBAKTIAN

  • Kebaktian Umum : 08.00 WIB | 17.00 WIB
  • Kebaktian Sekolah Minggu : 08.00 WIB
  • Kebaktian Remaja : 08.00 WIB

AGENDA KEGIATAN

KATERGORI BERITA

KATERGORI ARTIKEL

BANNER

POLLING

    Apakah keberadaan Website GKI Bintaro Jakarta cukup memberikan informasi ?
    Baik
    Cukup
    Kurang
    Sangat Kurang

STATISTIK PENGUNJUNG

    028860

    Pengunjung hari ini : 53
    Total pengunjung : 28860
    Hits hari ini : 136
    Total Hits : 79116
    Pengunjung Online : 1
Copyright © 2013. GKI Bintaro Jakarta. Designed by tanihatoe