Warta Jemaat

No.3, th. XXXVIII: Minggu, 19 Januari 2020

“PANGGILAN IBADAH DAN MAKNANYA”
I Timotius 6 : 2b – 10

Kata kunci dalam ibadah adalah KOINONIA/Persekutuan artinya terjadi kebersamaan/persatuan antar umat dan antara umat dengan Tuhan. Tuhan-lah yang berinisiatif mengundang umatnya dan umatnya merespon bersama-sama datang kepadaNya. Undangan atau panggilan Tuhan ini menempatkan setiap umatnya dalam posisi setara yaitu “Semua boleh datang, siapa pun dia”. Dalam liturgi hal itu disimbolkan dengan cara berdiri menghadap ke arah mimbar, semua yang beribadah menghadap kearah mimbar termasuk para pelayan ibadah datang dari arah umat bukan muncul dari arah mimbar yang seakan-akan mewakili Tuhan. Nampaknya hanya hal kecil namun saat kita paham maknanya maka kita melakukannya dengan penuh penghayatan.
Dalam pelayanan Paulus ia menghadapi orang-orang yang seakan-akan turut dalam persekutuan dan ibadah namun mereka membangun batas-batas yang mengkotak-kotakkan umat sehingga tidak terjadi persekutuan. Paulus mengingatkan hal itu kepada Timotius dalam Surat 1 Timotius 6:3-5 “Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat — yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus — dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.”
Mengenaskan sekali, mereka tidak datang untuk bersekutu tetapi memecahbelah dengan selalu membuka konflik. Memang konflik terbuka di Gereja ada, namun persentasenya relatif kecil, hanya ada persoalan lain yaitu persekutuan semu, persekutuan pura-pura dan sebutan yang memprihatinkan adalah “persekutuan gelas retak”. Menyedihkan bukan? Disebut anggota gereja tetapi jangankan turut melayani datang ibadah saja tidak pernah, atau ada juga yang rajin beribadah namun hanya memenuhi panggilan Tuhan namun tidak melakukan pengutusan Tuhan. Padahal kita paham makna melayani yang sederhananya adalah berpartisipasi, dalam hal ini banyak hal bisa kita lakukan sebab karunia Tuhan juga beragam bentuknya misalkan kecakapan, kepandaian, harta, pemikiran, kemampuan berbagai bidang, dll. Jadi asal mau ada jalannya untuk berpartisipasi.
Semua Tuhan panggil agar terjadi persekutuan untuk kemuliaan Tuhan. Kita dipanggil untuk bersama-sama dalam suka maupun duka. Persekutuan yang indah adalah; kita bersama-sama saat Tuhan memanggil, saat Tuhan berfirman dan saat Tuhan mengutus. Amin